Celah AI Worm pada Microsoft 365 Copilot di Word, dan Menyebar Otomatis Antar-Dokumen - Ethical Hacking Indonesia

Ethical Hacking Indonesia Juli 30, 2026 Comment
Ilustrasi Menggunkan Diagram Alur

Peneliti keamanan Håkon Måløy memublikasikan temuan uji konsep (proof-of-concept) mengenai celah keamanan pada Microsoft 365 Copilot di Word yang memungkinkan instruksi tersembunyi (hidden prompt injection) menyebar secara otomatis dari satu dokumen ke dokumen lain dan ini memiliki kesamaan pada worm yang pernah ada atau worm tradisional.

Kerentanan ini sangat mendasar pada arsitektur Retrieval-Augmented Generation (RAG) dan mekanisme Context Window Injection yang digunakan fitur Edit with Copilot (sebelumnya dikenal sebagai Agent Mode) di Word, beserta mesin kognitif pendukungnya, Work IQ.

Cara Kerja Injeksi dan Replikasi Mandiri

Serangan ini dinamakan Cross-Domain Prompt Injection (XPIA) yang Bereplikasi Mandiri, atau Self-Propagating AI Worm. Mekanismenya memanfaatkan cara AI memproses teks dan alur kerja otomatisasi dokumen:

1. Penyisipan Instruksi (Prompt Injection)

Peretas memasukkan instruksi terselubung berupa teks bahasa alami ke dalam sebuah dokumen, misalnya berkas Word yang diunduh dari internet atau dokumen analisis pasar. Instruksi ini sengaja disembunyikan menggunakan sejumlah teknik manipulasi CSS/styling Word, seperti:

  1. Ukuran huruf sangat kecil (font-size: 0pt)
  2. Warna teks yang sama dengan latar belakang (color: #FFFFFF)
  3. Diselipkan pada Custom Document Properties atau metadata berkas
Demonstrasi Pada Lab yang Dilakukan Peneliti Keamanan Untuk Bukti POC untuk Pelaporan
Ini merupkakan cara yang digunakan untuk menyembunyikan kosakata atau semacam payload pada dokumen, yang tidak terlihat oleh manusia tetapi diproses oleh komputer atau AI itu sendiri.

2. Pengolahan oleh Engine AI (Copilot & Work IQ)

Ketika pengguna menggunakan Copilot di Word untuk membuat atau mengedit laporan dan memilih berkas tersebut sebagai sumber referensi melalui fitur /Files, Work IQ mesin intelijen Microsoft 365 Copilot yang menghubungkan data pribadi/organisasi dari OneDrive, email, dan sumber lain akan membaca berkas tersebut melalui API RAG internal dan memasukkan (ingest) seluruh isinya ke dalam Context Window LLM.

Persoalannya, AI tidak bisa membedakan mana instruksi resmi dari pengguna dan mana data masukan dengan tujuan dibaca sebagai referensi. Instruksi tersembunyi di dalam berkas pun diperlakukan sebagai bagian dari perintah resmi pengguna.

3. Replikasi Diri (Self-Replication)

Instruksi jahat tersebut memerintahkan AI untuk melakukan dua tindakan sekaligus:

  • Manipulasi Data mengubah konten utama dokumen yang sedang dibuat, misalnya mengubah angka-angka pada laporan keuangan perusahaan.
  • Replikasi Diri menyalin ulang kode instruksi tersembunyi yang sama ke dalam dokumen baru yang dihasilkan Copilot.

4. Penyebaran ke Dokumen Lain (Worm Behavior)

Dokumen baru buatan Copilot otomatis menjadi media perantara serangan (carrier) baru. Ketika dokumen tersebut disimpan di cloud seperti OneDrive dan kemudian digunakan oleh rekan kerja lain sebagai acuan untuk menyusun dokumen berikutnya, seluruh alur di atas akan terulang kembali.

Jadi serangan bisa menyebar dari satu dokumen ke dokumen lain di dalam jaringan organisasi tanpa memerlukan aksi peretasan tambahan atau eksekusi malware tradisional apa pun.

Mengapa Sulit Dilacak

Karena rantai serangan berlanjut melalui dokumen-dokumen internal biasa tanpa memerlukan berkas asli dari peretas, manipulasi ini menjadi sangat sulit dilacak sumber awalnya (provenance trail). Jadi ibaratnya hanya dari dokumen awal saja yang diproses oleh AI dan menghasilkan dokumen lain padahal dokumen yang digenerate ini adalah dokumen yang sudah dibuat di internal. 

Menurut temuan tersebut, akar masalahnya terletak pada arsitektur LLM berbasis Transformer yang secara alami tidak memiliki pemisahan memori secara hardware antara Data Plane (dokumen sumber yang dibaca) dan Control/Instruction Plane (perintah pengguna).

Work IQ menggabungkan isi berkas eksternal dan prompt pengguna ke dalam satu blok token konteks tunggal (System/User Context Fusion). Akibatnya, model mengalami Context Collapse gagal membedakan antara batas dokumen acuan dengan instruksi sistem, sehingga perintah tersembunyi dapat mengeksekusi pembajakan alur kontrol (control flow hijacking). Mudahnya AI tidak bisa membedakan konteks antara data dan instruksi jadi di gabungin secara konteks. 

Celah ini tidak menyebabkan kerusakan infrastruktur sistem atau malware biner tradisional. Dampaknya justru berupa perusakan integritas data bisnis misalnya manipulasi laporan keuangan atau keputusan strategis yang terjadi secara terstruktur dan sulit dilacak asal-usulnya.

Hingga saat ini, belum ada pembenahan mutlak dari sisi Microsoft untuk seluruh kelas kerentanan ini (unremediated class-level vulnerability).

Rekomendasi Mitigasi

Sembari menunggu perbaikan dari vendor, langkah terbaik yang disarankan adalah menerapkan prinsip Zero Trust pada Data Masukan AI, yang mencakup:

  1. Perlakukan Dokumen Eksternal Sebagai Untrusted Input jangan pernah langsung menautkan dokumen yang diunduh dari internet atau pihak ketiga sebagai referensi /Files di Copilot tanpa pemeriksaan terlebih dahulu.
  2. Penerapan Sanitizer/Pembersihan Teks  lakukan validasi pada dokumen sebelum diolah Copilot, misalnya menghapus metadata tersembunyi dan teks transparan/berukuran 0pt, atau mengonversi dokumen ke format .txt bersih sebelum diproses melalui RAG.

Benediktus Sava - Security Researcher

Botnet IoT Dysphoria Berevolusi, Manfaatkan Domain Blockchain untuk Sembunyikan Server C2 - Ethical Hacking Indonesia

Ethical Hacking Indonesia Juli 28, 2026 Comment

Ilustrasi Rantai Serangan (Attack Chains)

Peneliti keamanan siber mengungkap botnet Internet of Things (IoT) baru bernama Dysphoria yang menggunakan infrastruktur nama domain berbasis blockchain dan jaringan relay perangkat korban untuk menyembunyikan server perintah dan kontrol (Command-and-Control/C2) mereka dari upaya pemblokiran aparat penegak hukum.

Botnet ini menyasar penyedia layanan internet (ISP) dan industri gaming sebagai target utama serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS) secara rutin. Selain itu, ribuan perangkat IoT yang terinfeksi mulai dari router, gateway, hingga kamera pengawas juga menjadi korban karena diubah fungsinya menjadi node perantara (relay) untuk meneruskan lalu lintas serangan.

Deteksi terhadap botnet ini pertama kali dikemukakan oleh CNCERT (tim tanggap darurat komputer nasional Tiongkok) dan XLab, laboratorium intelijen ancaman milik perusahaan keamanan siber Qi'anxin. Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi secara independen oleh NICT Jepang, Nokia Deepfield, dan Comcast.

Dari sisi skala, Dysphoria dilaporkan telah menginfeksi lebih dari 200.000 perangkat secara global, dengan puncak mencapai 239.000 bot di luar negeri dalam sehari dan 4.401 perangkat aktif di Tiongkok. Meski begitu, angka ini belum dapat dipastikan kebenarannya secara objektif, karena data tersebut belum diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga dan para peneliti tidak mempublikasikan metodologi penghitungan maupun cara eliminasi duplikasi data.

Kronologi Evolusi Botnet

Rangkaian peristiwa terkait Dysphoria tercatat berlangsung sebagai berikut:

  1. 19 Maret 2026 - Operasi penegakan hukum gabungan Amerika Serikat, Jerman, dan Kanada menindak infrastruktur botnet JackSkid.
  2. 25 Maret 2026 - XLab menangkap sampel awal yang menunjukkan perpindahan infrastruktur ke Ethereum Name Service (ENS).
  3. Akhir April 2026 - Pengembang botnet menambahkan enkripsi string RC4 kustom sekaligus kemampuan resolusi ENS.
  4. Awal Mei 2026 - Ditambahkan kemampuan resolusi Solana Name Service (SNS).
  5. 25 Juni 2026 - Muncul varian relay-only yang membuang modul DDoS dan berfokus pada pemetaan port.
  6. 14–20 Juli 2026 - CNCERT dan XLab mencatat pemantauan telemetri aktif terhadap ribuan perangkat korban.
  7. 25 Juli 2026 - XLab resmi mempublikasikan hasil analisis teknis mereka terkait evolusi arsitektur dan rantai relay botnet Dysphoria.

Teknik Penyebaran dan Infeksi

Para pelaku menyebarkan Dysphoria terutama melalui tebakan kata sandi lemah (brute force) pada layanan Telnet dan SSH. Selain itu, mereka juga mengeksploitasi celah keamanan Remote Code Execution (RCE) pada perangkat IoT, salah satunya celah command-injection pada router Linksys E1700 yang tercatat sebagai CVE-2025-9528.

Infrastruktur Berbasis Blockchain Strategi Anti-Penyitaan

Salah satu ciri khas Dysphoria adalah penggunaan domain terdesentralisasi berbasis blockchain untuk menyimpan record IP dari node distribusinya, yaitu:

  • Ethereum Name Service (ENS) - menggunakan domain seperti m3rnbvs5d[.]eth untuk resolusi C2 dasar, dan burrberry[.]eth yang secara spesifik berfungsi menampung alamat IPv4 terenkode milik node distribusi.
  • Solana Name Service (SNS) - menggunakan domain seperti 24carnforth2merseyside[.]sol untuk menyuplai dan mempublikasikan record infrastruktur tambahan lainnya.

Tujuan penggunaan ENS dan SNS ini adalah untuk mencegah tindakan penyitaan domain (seizure) yang biasa dilakukan aparat penegak hukum terhadap domain berbasis DNS konvensional.

Arsitektur Relay Berbasis Perangkat Korban

Dysphoria juga mengandalkan arsitektur victimized relay. Ketika bot aktif, perangkat yang terinfeksi meminta daftar server C2 kepada node distribusi melalui protokol HTTP biasa. Namun, endpoint yang diberikan bukanlah server C2 asli, melainkan perangkat korban lain yang telah terinfeksi sebelumnya (infected-device relays). Teknik berlapis ini membuat server kontrol utama tetap tersembunyi di balik jaringan relay tersebut.

Varian Relay-Only dan Pemetaan Port UPnP

Varian yang muncul pada 25 Juni 2026 menghapus modul serangan DDoS dan mengalihkan fungsi perangkat untuk memetakan port pada gateway lokal menggunakan UPnP (Universal Plug and Play). Varian ini juga memanfaatkan system call epoll pada Linux untuk secara efisien memindahkan (shuttling) lalu lintas data antara koneksi luar dan server C2 jarak jauh, dengan melewati mekanisme Network Address Translation (NAT).

Keterkaitan dengan Botnet JackSkid dan Kimwolf (AISURU)

Dysphoria diketahui memiliki keterikatan lini (lineage) langsung dengan botnet JackSkid salah satu dari empat botnet IoT yang ditindak dalam operasi hukum gabungan AS, Jerman, dan Kanada pada 19 Maret 2026. Dokumen pengadilan bahkan mengaitkan lebih dari 90.000 perintah DDoS dengan JackSkid.

Selain itu, penggunaan C2 berbasis ENS pada Dysphoria juga memiliki kemiripan struktur dengan botnet Kimwolf (dikenal juga sebagai AISURU), yang sebelumnya sempat dianalisis oleh XLab pada akhir tahun lalu.

Diperjualbelikan di Pasar Gelap Siber

Kapasitas serangan botnet ini turut diperjualbelikan secara terbuka melalui etalase komersial di pasar gelap siber. Operator menawarkan jasa serangan DDoS dengan klaim kapasitas hingga sekitar 4 Tbps, dengan banderol harga mulai dari puluhan hingga ratusan dolar AS.

Tantangan Penanganan (Take-down)

Meski arsitektur terdesentralisasi dan penggunaan relay perangkat korban membuat Dysphoria sulit dihentikan, botnet ini disebut tidak sepenuhnya kebal terhadap tindakan penegakan hukum. Penegak hukum dan peneliti keamanan masih berpeluang memutus rantai operasinya dengan menyasar record blockchain, node distribusi yang dapat diakses, serta relay-relay yang telah terkompromi.

Baca Juga Tentang: Botnet-C2 Analisis-Mirai-Xlab Powmix RondoDox PolarEdge-GeoServer

Benediktus Sava – Security Researcher

Sumber: XLab CNCERT Jackskid NVD-NIST