Bedah Copy Fail: Bug Kernel Linux Jadi Akses Root CVE-2026-31431 - Ethical Hacking Indonesia

Ethical Hacking Indonesia Mei 01, 2026 Comment
Copy File merupakan kerentanan yang terjadi pada tingkat rendah dari sistem linux yang berakibatkan user biasa bisa mendapatkan hak akses luar biasa atau super user tanpa authektikasi

Kerentanan Local Privilege Escalation biasanya bergantung pada dua hal: race condition yang sempit atau offset kernel yang spesifik. Copy Fail (CVE-2026-31431) mematahkan asumsi itu sepenuhnya. Ini bukan bug timing, bukan juga exploit yang membutuhkan penyesuaian terhadap versi kernel tertentu. Ini adalah logic flaw linear di dalam subsistem crypto Linux, tepatnya pada implementasi algif_aead dalam AF_ALG. Artinya, eksploitasi tidak membutuhkan kondisi khusus cukup user biasa, tanpa privilege, tanpa debugging capability, dan tanpa primitif tambahan. Di banyak environment modern, itu sudah cukup untuk mendapatkan root.

Baca Juga Tentang: Local Privilege Escalation

Masalah utamanya muncul dari desain “in-place operation” yang sebelumnya diperkenalkan, di mana source dan destination buffer diasumsikan bisa berbagi mapping memori. Dalam praktiknya, asumsi ini tidak valid karena keduanya berasal dari mapping berbeda. Kompleksitas tambahan untuk mendukung operasi ini justru membuka celah: data yang seharusnya diisolasi malah diproses dengan cara yang memungkinkan manipulasi terhadap page cache atau buffer kernel. Ketika kernel melakukan copy data associated (AD) dalam konteks AEAD, terdapat inkonsistensi dalam bagaimana pointer dan panjang data divalidasi. Ini menciptakan kondisi di mana user-space bisa memicu write ke area yang tidak semestinya.

Yang membuatnya berbahaya adalah sifatnya yang deterministik. Tidak ada race window yang harus “ditangkap”. Eksekusi berjalan lurus: kirim input crafted ke AF_ALG socket, trigger path yang salah dalam algif_aead, dan hasilnya adalah memory corruption yang bisa dikontrol. Ini menjelaskan kenapa PoC bisa sesederhana script Python ~700 byte dan tetap bekerja lintas distro sejak 2017.

Skenario eksploitasi yang realistis muncul di lingkungan multi-tenant. Bayangkan sebuah CI runner self-hosted yang mengeksekusi pull request dari publik. Attacker cukup mengirim PR berisi payload Python sederhana. Karena runner menjalankan kode sebagai user biasa di host kernel yang sama, exploit dapat dijalankan langsung. Begitu privilege escalation berhasil, attacker memiliki akses root ke mesin runner, yang seringkali menyimpan secrets seperti token deployment, SSH keys, atau credentials cloud. Ini bukan sekadar LPE ini pivot point untuk supply chain attack. Dari satu runner, attacker bisa menyuntikkan malicious code ke pipeline build dan menyebarkannya ke artifact produksi.

Dalam konteks container, dampaknya bahkan lebih luas. Banyak organisasi masih menganggap container sebagai boundary keamanan, padahal kernel tetap shared. Dengan Copy Fail, sebuah pod yang dikompromi dapat melakukan escape ke host. Karena page cache dan subsistem kernel dibagi, exploit ini membuka jalan untuk cross-container compromise. Dalam cluster Kubernetes multi-tenant, ini berarti satu tenant bisa mengakses resource tenant lain, atau bahkan menguasai node secara penuh.

Jika dibandingkan dengan kasus seperti Dirty Pipe, pola eksploitasinya memiliki kemiripan: manipulasi terhadap mekanisme kernel yang berhubungan dengan data flow (pipe atau crypto buffer) untuk menulis ke area yang seharusnya read-only atau terisolasi. Insight penting di sini adalah bahwa kelas bug seperti ini tidak lagi jarang atau mahal untuk ditemukan. Dengan bantuan sistem otomatis seperti yang digunakan oleh peneliti, discovery terhadap logic flaw semacam ini menjadi jauh lebih cepat. Artinya, asumsi lama bahwa kernel bug adalah “rare commodity” sudah tidak relevan.

Dampaknya terhadap threat model cukup signifikan. Sistem yang sebelumnya dianggap aman karena tidak expose network service kini tetap rentan jika attacker mendapatkan foothold lokal sekecil apapun misalnya melalui web RCE, credential leakage, atau misconfigured service. Copy Fail menjadi tahap eskalasi yang hampir pasti berhasil setelah initial access.

Lalukan Pengecekan Linux Kamu: Github - Copy Fail

Mitigasi utamanya tentu patch kernel ke versi yang telah memperbaiki implementasi algif_aead dengan kembali ke pendekatan out-of-place operation. Namun, pendekatan defensif tidak boleh berhenti di patching. Untuk environment dengan risiko tinggi seperti CI/CD, Kubernetes, atau SaaS yang menjalankan kode user, isolasi berbasis VM atau microVM menjadi jauh lebih relevan dibanding sekadar namespace container. Selain itu, pembatasan akses terhadap AF_ALG dapat dipertimbangkan melalui seccomp atau LSM policy, karena tidak semua aplikasi membutuhkan interface crypto kernel secara langsung.

Baca Juga Tentang: CI/CD

Di sisi engineering, kasus ini juga menunjukkan pentingnya validasi terhadap laporan vulnerability. Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam vulnerability discovery, jumlah laporan akan naik drastis, tetapi tidak semuanya valid. Organisasi perlu memiliki pipeline untuk reproduksi cepat terhadap PoC agar bisa membedakan noise dan exploit nyata. Tanpa itu, vulnerability seperti Copy Fail bisa terlambat ditangani meskipun exploit-nya trivial.

Kesimpulan yang bisa kita ambil Copy Fail bukan hanya tentang satu bug di kernel. Ini adalah indikator perubahan lanskap: eksploitasi semakin mudah, discovery semakin cepat, dan boundary keamanan tradisional seperti container semakin tidak cukup. Praktisi security perlu mulai mengasumsikan bahwa LPE seperti ini akan terus muncul dan merancang sistem dengan asumsi tersebut, bukan sebagai edge case.

Benediktus Sava – Security Researcher

Sumber:

Copy File

Bugcrowd