Pemadaman Internet Massal di Iran Memutus 90 Juta Warga Saat Protes Memuncak

Image by <a href="https://pixabay.com/users/thedigitalartist-202249/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=4610902">Pete Linforth</a> from <a href="https://pixabay.com//?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=4610902">Pixabay</a>

Pemadaman internet massal di Iran telah memutus akses komunikasi digital bagi lebih dari 90 juta orang. Ketika gelombang protes semakin meluas dan korban jiwa terus bertambah, pemerintah memilih membatasi konektivitas sebagai alat pengendalian. Pesan tidak terkirim, layanan VPN lumpuh, dan warga terpaksa mencari celah komunikasi yang hanya muncul sesaat.

Salah satu warga di Teheran menggambarkan situasi ini dengan sederhana namun menyayat. Ia berdiri di dekat ponselnya, terus menyegarkan layar, hanya untuk mengirim satu kalimat pendek seperti “aku baik baik saja” atau “kamu masih di sana”. Beginilah rasanya hidup dalam pemadaman total, ketika kebebasan digital diputus di tengah ketegangan politik yang memuncak.

Cybernews berbicara dengan seorang pekerja teknologi asal Iran yang kini tinggal di luar negeri. Meski berada jauh dari tanah air, ia masih berkomunikasi rutin dengan keluarga dan rekan di Teheran serta kota lain di Iran, menyaksikan dampak pemadaman ini secara langsung melalui cerita dan potongan koneksi yang tersisa.

Pada tanggal delapan Januari, seluruh populasi Iran merasakan pemutusan konektivitas digital secara menyeluruh. Lebih dari 90 juta orang terisolasi dari dunia daring. Ketika jumlah korban tewas akibat protes dilaporkan telah melampaui lima ratus orang, pemadaman ini terus berlanjut. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar tentang dampak nyata dari pemutusan internet dalam skala nasional.

Tidak seperti pemadaman listrik yang terjadi secara tiba tiba, gangguan internet datang secara perlahan. Warga di Teheran mulai merasakan tanda tanda awal sebelum koneksi benar benar hilang. Saat para demonstran berusaha mengirim pembaruan keselamatan, mereka melihat pesan berhenti di status terkirim, pesan suara gagal dikirim, gambar tidak dapat dimuat, dan aplikasi yang biasanya bisa diakses melalui VPN mendadak tidak merespons.

Menurut sumber Cybernews, koneksi terasa melemah terlebih dahulu sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya. Pola ini menciptakan tekanan psikologis yang berat. Harapan masih ada, namun selalu runtuh. Sebelumnya, setelah serangan udara Israel ke Iran pada Juni tahun lalu, warga yang melek teknologi masih bisa mengandalkan VPN untuk bertahan. Kali ini, situasinya jauh lebih menekan.

Dalam kondisi saat ini, saluran komunikasi warga dipersempit secara sistematis. Pesan suara gagal, gambar tidak terbuka, dan layanan yang dulu stabil kini tidak bisa diandalkan. Warga menggambarkannya seperti dicekik perlahan. Mereka menyiapkan pesan lebih awal, menunggu momen koneksi singkat yang tidak bisa diprediksi, lalu mencoba mengirimnya secepat mungkin sebelum jaringan kembali lenyap.

Istilah pemadaman sering kali menyesatkan, seolah koneksi sebelumnya berada dalam kondisi normal. Faktanya, warga Iran telah lama hidup dengan akses internet yang dibatasi. Pada tahun dua ribu sembilan belas, pemadaman diberlakukan setelah kenaikan harga bahan bakar yang memicu protes luas. Amnesty International menilai langkah tersebut sebagai upaya menutupi jumlah pembunuhan di luar hukum.

Kemudian pada musim gugur dua ribu dua puluh dua, setelah kematian Mahsa Amini di tahanan polisi akibat penegakan aturan hijab, pemerintah memberlakukan jam malam digital. Akses internet diputus pada jam jam tertentu, terutama di wilayah Kurdistan di Iran barat. Sejak itu, ketidakstabilan menjadi kondisi permanen.

Menurut sumber Cybernews, pengalaman hidup dengan internet di Iran selama bertahun tahun adalah rasa tidak percaya. Tidak ada yang benar benar stabil atau dapat diandalkan. Namun, pemadaman kali ini terasa berbeda. Bebannya lebih berat, kelelahan semakin dalam, dan kemarahan bercampur dengan rasa pasrah.

Sumber tersebut menjelaskan bahwa isolasi kini digunakan sebagai alat tekanan yang lebih halus namun efektif. Pemutusan koneksi tidak lagi sekadar mematikan jaringan secara total, melainkan dilakukan dengan cara yang lebih terarah. Koneksi diperlambat, diganggu, atau dibuat tidak stabil secara selektif, sehingga jauh lebih sulit untuk diakali.

Pendekatan ini menunjukkan peningkatan kemampuan teknis dalam membungkam komunikasi publik. Bukan lagi soal hidup atau mati koneksi, melainkan tentang mengendalikan ritme, ketidakpastian, dan kelelahan psikologis warga. Dalam konteks ini, pemadaman internet di Iran bukan sekadar gangguan teknis, melainkan instrumen kekuasaan yang berdampak langsung pada kehidupan manusia.

Di tengah keterputusan digital, warga Iran terus berjuang mempertahankan satu hal yang tersisa, yaitu kemampuan untuk saling memberi kabar bahwa mereka masih ada, masih hidup, dan belum sepenuhnya dibungkam.

Share this

Add Comments


EmoticonEmoticon