Jutaan pengguna Instagram dibuat panik setelah menerima email mendadak yang meminta mereka melakukan reset kata sandi. Bagi banyak orang, pesan tersebut langsung diasosiasikan dengan kabar kebocoran data Instagram yang ramai dibicarakan pekan lalu. Isu ini cepat menyebar, memicu kekhawatiran bahwa data pribadi pengguna telah jatuh ke tangan pihak tidak bertanggung jawab.
Kepanikan itu bermula dari sebuah unggahan di Breach Forums, forum peretas yang dikenal sebagai tempat jual beli data curian. Dalam unggahan tersebut, seorang penjual mengklaim memiliki dump data bertajuk Instagram dot com 17M Global Users 2024 API Leak. Ia menyebut dataset tersebut berisi informasi 17,5 juta pengguna Instagram yang dikemas dalam format JSON dan TXT. Klaim ini diperkuat dengan narasi bahwa data yang bocor mencakup nama lengkap, alamat email, nomor telepon, hingga sebagian informasi lokasi.
Tak butuh waktu lama hingga klaim tersebut menyebar luas. Banyak pengguna yang menerima email reset kata sandi merasa bahwa akun mereka menjadi bagian dari kebocoran besar tersebut. Namun pada Sabtu, Meta selaku induk perusahaan Instagram memberikan klarifikasi resmi dan membantah adanya pelanggaran sistem.
Meta menjelaskan bahwa email reset kata sandi itu dipicu oleh masalah pada layanan pihak ketiga yang memungkinkan pihak eksternal mengirim permintaan reset password ke sejumlah akun. Masalah tersebut, menurut Meta, telah diperbaiki dan tidak menyebabkan pencurian data pribadi pengguna. Instagram juga menegaskan bahwa sistem mereka tidak diretas dan akun pengguna tetap aman. Dalam pernyataan resminya di platform X, Instagram meminta pengguna untuk mengabaikan email tersebut dan menyampaikan permintaan maaf atas kebingungan yang terjadi.
Sementara itu, tim peneliti dari Cybernews melakukan penelusuran independen terhadap dataset yang dijual di Breach Forums. Hasilnya cukup jelas. Klaim kebocoran data Instagram terbaru dinyatakan tidak benar. Data yang ditawarkan ternyata bukan hasil peretasan baru, melainkan data lama yang didaur ulang.
Menurut Cybernews, dataset tersebut identik dengan kebocoran Doxagram, sebuah situs peretas yang muncul pada tahun 2017 dan menjual data hasil scraping dari sekitar enam juta akun Instagram. Pada masa itu, seorang peneliti keamanan dari Kaspersky Lab, Ido Naor, pernah melaporkan adanya celah pada API Instagram, khususnya di bagian reset kata sandi. Celah tersebut dimanfaatkan untuk mengumpulkan data akun berprofil tinggi, termasuk nomor telepon dan alamat email.
Peneliti Cybernews menegaskan bahwa data yang kini diklaim sebagai kebocoran 2024 sejatinya adalah versi ulang dari kebocoran tahun 2022, yang juga merupakan hasil repackaging data dari tahun 2017. Seluruh struktur data, urutan akun, hingga field informasi yang tersedia menunjukkan kecocokan sempurna. Informasi sensitif di dalamnya pun berasal dari data lama, sementara sisanya merupakan data publik seperti username, nama tampilan, dan ID akun.
Dengan kata lain, tidak ada kebocoran data Instagram baru seperti yang diklaim di forum peretas tersebut. Yang terjadi adalah pengemasan ulang data lama dengan narasi baru untuk menciptakan kepanikan dan menarik pembeli. Meski demikian, insiden ini menjadi pengingat bahwa isu keamanan digital sering kali dimanfaatkan oleh aktor ancaman untuk memanipulasi persepsi publik.
Bagi pengguna Instagram, kejadian ini menegaskan pentingnya bersikap kritis terhadap kabar kebocoran data yang beredar. Tidak semua klaim di forum peretas mencerminkan ancaman nyata. Namun di sisi lain, kewaspadaan tetap diperlukan, karena praktik daur ulang data lama menunjukkan bahwa jejak digital yang pernah bocor dapat terus dieksploitasi selama bertahun tahun.



.jpg)








.png)
